Sabtu, 11 Januari 2014

laporan pendahuluan halusinasi


LAPORAN PENDAHULUAN
ASKEP PADA KLIEN DENGAN PERUBAHAN SENSORI
PERSEPSI HALUSINASI


A.    PENGERTIAN
Halusinasi merupakan suatu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa. Halusinasi sering diidentikkan dengan Skizofrenia. Dari seluruh klien Skizoprenia 70 % diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang sering juga disertai dengan gejala halusinasi adalah gangguan maniak, depresif, dan delirium.
Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana lmempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penyerapan panca indera tanpa ada rangsagan dari luar ( Maramis, 1998 ).
Suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui panca indera tanpa stimulus ekstren, persepsi palsu ( Lubis, 1993 ).

B.     RENTANG RESPON HALUSINASI
Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi ( Stuart dan Larota, 2001 ). Ini merupakan respon persepsi paling maladaptif. Jika klien yang sehat persepsinya akurat,mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasiyang diterima melalui panca indera, klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus panca indera walaupun sebenarnya stimulus tersebut tidak ada. Rentang respon tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

C.    JENIS-JENIS HALUSINASI
Stuart dan larota, 1998 membagi halusinasi menjadi 7 jenis, yaitu : halusinasi pendengaran ( auditory ), halusinasi ppenglihatan ( visual ), halusinasi penghidu ( olfaktory ), halusinasi pengecap ( gustatory ), halusinasi perabaan ( tactile ), halusinasi cenestetic, dan halusinasi kinesthetic
KARAKTERISTIK HALUSINASI DENGAR
a.       Mendengar suara-suara atau bisingan, paling sering suara orang
b.      Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai ke percakapan lengkap antara dua orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi.
c.       Pikirang yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien disuruh untuk melakukan sesuatu, kdang-kadang da[at membahayakan.
( Stuart dan Larota, 2001 hal 409 ).

D.    FASE-FASE HALUSINASI
Halusinasi yang dialami oleh klien bisa berbeda intensitas dan keparahannya. Stuart dan Larota, 2001, membagi fase halusinasi menjadi 4 fase berdasarkan tingakt ansietas yang dialami dan kemampuan klien mengendalikan diri, dibagi menjadi :
FASE-FASE HALUSINASI
FASE HALUSINASI
KARAKTERISTIK
PERILAKU KLIEN
Fase 1 : Comforting Ansietas sedang, halusinasi menyenangkan
Klien mengatakan perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah, san akut dan mencoba untuk berfokus pada pikiran menyenangkan untuk meredakan ansietas. Individu mengenali bahwa pikiran-pikiran dan pengalaman sensori berada dalam kendali kesadaran jika ansietas dapat ditangani.
NONPSIKOTIK
Tersenyum atau tertawa yang tak sesuai. Menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata yang cepat. Respon verbal yang lambat jika sedang asyik. Dia dan asyik sendiri.
Fase 2 :
Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali danmungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Klien mungkin mengalami dipermalukan dan pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain.
PSIKOTIK RINGAN
Meningkatnya tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas seperti peningkatn denyut jantung, pernafasan, dan tekanan darah. Rentang perhatian menyempit. Asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dan realita.
Fase 3 : Controling, ansietas berat. Pengalaman sensorimenjadi berkuasa
Klien berhenti mengehntikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Isi halusinasi menjadi menarik. Klien mungkin mengalami pengalaman kesepian jika sensori halusinasi berhenti.
PSIKOTIK
Kemauan yang dikendalikan halusinasi akan lebih diikuti kesukaran berhubungan dengan orang lain. Rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit. Adanya tanda-tanda fisik ansietas berat berkeringat, tremor, takmampu mematuhi perintah.
Fase 4 : CONQUERING PANIK. Umumnya menjadi melebur dalam halusinasinya
Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Halusinasi berakhir dari beebrapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik.
PSIKOTIK BERAT
Perilaku teror akibat panik. Potensi kuat suicide atau homicide. Aktivitas fisik merefleksikan isi halusinasi seperti perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, atau katatonia. Tidak mampu berespon terhadap perintah yang komplek. Tidak mampu berespon lebih dari satu orang.
 
E.     PENGKAJIAN KLIEN DENGAN HALUSINASI DENGAR
  1. Faktor Predisposisi
1.      Faktor Genetis
Telah diketahui bahwa secara genetis skizofrenia diturunkan melalui kromosom tertentu. Diduga letak gen skizofrenia ada di kromosom nomor 6 dengan kontribusi gen tambahan no. 4, 8, 15, dan 22 ( Buchanan dan Charpenter, 2000 ). Anak kembar identik mungkin mengalami skizofrenia 50 %, jika saudara kembar mengalaminya.
2.      Faktor Neurologi
Ditemukan pada klien skizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang normal. Neurotransmiter juga ditemukan tak normal, khususnya dopamin, serotonin dan glutamat.
3.      Studi Neurotransmiter
Dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotonin.
4.      Teori Visus
Paparan visus influensinya pada trimester ke-3 kehamilan dapat menjadi faktor predisposisi.
5.      Psikologis
Antara lain anak yang diperlakukan ibu yang pencemas, terlalu melindungi, dingin dan tak berperasaan, ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.
  1. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor pencetus respon neurobiologis :
  1. Mekanisme penghantaran listrik di syaraf terganggu
  2. Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku.
  1. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi :
a.       Regresi, menjadi malas beraktivitas sehari-hari
b.      Proyeksi, mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda.
c.       Menarik diri, sulit mencari orang lain dan asyik denga stimulus internal
d.      Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien.
  1. Perilaku
Halusinasi benar-benar riil dirasakan oleh klien yang mengalaminya, seperti mimpi saat tidur.memfasiltasi pasien halusinasi, klien perlu dibuat nyaman ntuk menceritakan perihal halusinasinya. Kita ( perawat ) perlu memvalidasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan :
a.       Isi halusinasi yang dialami oleh klien. Dikaji dengan suara siapa yang didengar, berkata apa bila halusinasi datang
b.      Waktu dan frekuensi halusinasi
Dikaji dengan kapan halusinasi muncul, setiap apa ( pagi, siang, malam ), berapa kali sehari, sebulan, setahun. Informasi ini penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu diperhatikabn saat mengalami halusinasi.
c.       Situasi pencetus halusinasi
Mengkaji peristiwa apa yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bisa mengobservasi apa yang dialami klien menjelang muncul halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.
d.      Respon klien
Menetukan sejauh mana halusinasi telah memepengaruhi klien. Bisa dikaji dengan menanyakan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus atau sudah tidak berdaya lagi terhadap halusinasi.

F.     DIAGNOSA KPEERAWATAN
Klien dengan halusinasi fase ke-IV mengalami panik dan perilakunya diendalikan isi halusinasinya. Dimana klien ini dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga membahayakan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
Karena halusinasinya, klien mengalami masalah keperawatan, abtara lain harga diri rendah dan isolasi sosial. Sehingga dapat disusun pohon masalah.


Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

Perubahan sensori persepsi : halusinasi dengar ( masalah utama )

Isolasi sosial : menarik diri

Ganguan konsep diri : harga diri rendah

Sehingga diagnosa keperawatannya :
1.      Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sehubungan dengan halusinasi dengar
2.      Perubahan sensori persepsi : halusinasi dengar sehubungan dnegan menarik diri
3.      Isolasi sosial : menarik diri sehubungan dengan harga diri rendah.
G.    TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN
Tujuannya antara lain :
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya
b.      Klien mengenal halusinasi yang dialaminya
c.       Keperawatan dapat mengontrol halusinasi
d.      Keperawatan mendapat dukungan keluarga untuk mengontrol halusinasi
e.       Keperawatan dapat memanfaatkan obat untuk mengatasi halusinasi

H.    TINDAKAN KEPERAWATAN
Adapun cara yang bisa dilatihkan kepada klien untuk mengatasi halusinasi meliputi :
  1. Menghardik halusinasi
  2. Berinteraksi dengan orang lain
  3. Beraktivitas secara teratur dengan menyusun kegiatan harian
  4. Menggunakan obat
I.       EVALUASI
Berhasil jika klien dapat menunjukkan kemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi dengan cara yang efektif yang dipilihnya. Disamping itu keluarga klien menunjukkan kemampuan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk klien mengatasi masalah gangguan jiwanya.




DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, I. J. ( 1995 ). Handbook of Nursing Diagnosis. Ed. 6. Philadelphia : J. B. Lippincot Company
Stuart, G. W. dan Loraina, M. T. ( 2001 ). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Ed. 7. St Louis : Mosby
Stuart, G. W. dan Loraira, M. T. ( 1998 ). Principles and Practice of PsyChiatric Nursing. Ed. 6. St Louis : Morby
Stuart, G. W. dan Jundeen, S. J. ( 1995 ). Buku Saku Keperawatan Jiwa, Alih bahasa oleh Achir Yani S. Ed. 3. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar