Jumat, 31 Januari 2014

Laporan pendahuluan dan Askep Osteoporosis


BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
                     Dengan bertambahnya usia harapan hidup orang Indonesia, maka jumlah manusia lanjut usia di Republik ini akan bertambah banyak pula. Sehingga masalah penyakit akibat ketuaan akan semakin banyak kita hadapi. Salah satu penyakit yang harus diantisipasi adalah semakin banyaknya penyakit  osteoporosis dan patah tulang  yang diakibatkannya (Bayu Santoso, 2001)
                     Pada tahun 60 tahun ke depan akan terjadi perubahan demografik yang akan meningkatkan populasi warga usia lanjut dan meningkatkan terjadinya patah tulang karena osteoporosis. Jumlah penderita patah tulang akibat osteoporosis yang pada tahun 1990 mencapai 1,7 juta akan menjadi 6,3 juta pada tahun 2050, kecuali jika ada tindakan pencegahan yang agresif (Joewono Soeroso, 2001).
                           80% osteoporosis terjadi pada wanita terutama yang sudah mencapai usia menoupouse. Osteopororis sebetulnnya adalah berkurangnya masa tulang yang kemudian diikuti dengan kerusakan arsitektur tulang, sehingga tulang mudah mengalami patah tulang (R.  Prayitno Prabowo, 2001).
                     Osteoporosis didefinisikan sebagai kelainan skeletal yang ditandai dengan adanya gangguan kekuatan tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lebih besar resikonya untuk mengalami patah tulang. (Edi Mutamsir, 2001).
                     Osteoporosis dibagi menjadi tiga yaitu osteoporosis primer, osteoporosis sekunder dan osteoporosis idiopatik. Dalam penelitian ini  peneliti membatasi pada osteoporosis primer. Menurut Albright JA tahun 1979. Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan merupakan kelompok yang terbesar. Ada dua faktor resiko yang menjadi penyebab utama terjadinya osteoporosis yaitu faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah.
                     Dengan mengetahui faktor resiko osteoporosis, kita dapat memperkirakan penyebab atau suatu hal yang dapat mempermudah terjadinya osteoporosis. Konsep ini sangat bermanfaat dalam upaya mengurangi angka kecacatan.

1.1  Rumusan Masalah
1.1.1        Apa pengertian dari osteoporosis ?
1.1.2        Apa saja penyebab dari osteoporosis ?
1.1.3        Bagaimana cara pencehannya ?
1.1.4        Bagaimana asuhan keperawatan lansia pada kasus osteoporosis ?

1.2  Tujuan Penulisan
1.2.1        Mengetahi apa yang dimaksud dengan osteoporosis.
1.2.2        Mengetahui penyebab dari osteoporosis.
1.2.3        Mengetahui cara pencegahannya.
1.2.4        Mengetahui cara membuat asuhan keperawatannya.













BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Definisi Osteoporosis

               Osteoporosis adalah kondisi dimana terjadi peningkatan porositas dari tulang. Atau dengan kata lain adalah sugresif dari masa tulang, sehingga memudahkan terjadinya patah tulang (Albright  JA, 1979).
               Bagian tulang yang umumnya diserang adalah (Djoko Roeshadi, 2001):
1.            Pada tulang radius distal
2.            Pada tulang vertebrae
3.            Pada tulang kollum femur / pelvis

2.2       Pembagian Osteoporosis

               Chehab Rukmi Hylmi (1994) membagi osteoporosis sebagai berikut :
1.            Osteoporosis Primer
2.            Osteoporosis Sekunder
3.            Osteoporosis Idiopatic

1. Osteoporosis Primer

               Osteoporosis primer adalah suatu osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dengan jelas ini merupakan kelompok terbesar.
Osteoporosis primer dibagi menjadi :

1.            Type I
                        Osteoporosis yang timbul pada wanita post menoupouse
2.            Type II
                  Osteoporosis yang terdapat pada kedua jenis kelamin   dengan usia yang semakin bertambah (senilis)

2. Osteoporosis Sekunder

            Osteoporosis sekunder adalah  suatu osteoporosis yang diketahui penyebabnya  jelas.
Biasanya disebabkan oleh :
1.            Endcrine disease
2.            Nutritional causes
3.            Drugs

3. Osteoporosis Idiopatic

            Yang dimaksud dengan osteoporosis jenis ini adalah terjadinya pengurangan masa tulang pada :
1.            Juvenile
2.            Adolesence
3.            Wanita pra menoupouse
4.            Laki-laki berusia muda /pertengahan
5.            osteoporosis jenis ini lebih jarang terjadi.

2.3 Patofisiologi Osteoporosis

               Sel tulang terdiri atas osteoblas, osteossit dan  osteoclas yang dalam aktifitasnya mengatur homeostasis kalsium yang tidak  berdiri sendiri melainkan saling berinteraksi. Homeostasis kalsium pada  tingkat seluler didahului penyerapan tulang oleh osteoclas  yang memerlukan waktu 40 hari disusul fase istirahat dan kemudian disusul fase pembentukan tulang kembali oleh osteoblas yang memerlukan waktu 120 hari  (Kamis, 1994).
               Dalam  penyerapannya osteoclas melepas transforming  Growth Factor yang merangsang aktivitas awal osteoblas dalam keadaan normal kwantitas dan kwalitas penyerapan tulang oleh osteoclas sama dengan kwantitas dan kwalitas pembentukan tulang baru oleh osteoclas. Pada Osteoporasis penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan baru (Djoko Roeshadi, 2001).

2.4 Gejala dan Tanda Osteoporosis

               Pada awalnya penyakit ini tidak menimbulkan gangguan apapun. Namun dalam  kondisi yang sudah parah gambaran klinik osteoporosis adalah sebagai berikut (Djoko R, 2001)
1.            Nyeri
2.            Tinggi badan berkurang /memendek
   Dalam mendiagnosis osteoporosis tidak hanya berdasarkan pemeriksaan klinik serta radiologis saja. Dengan pemeriksaan penunjang yaitu BMD (Bone Mineral Density) dan DEXA (Dual Energy X-Ray Absorpsiometry) diagnosis osteoporosis menjadi lebih pasti.

2.5 Faktor Resiko Osteoporosis
               Dikenal beberapa faktor resiko untuk terjadinya osoteoporosis. Faktor resiko ini dibagi menjadi dua (R. Prayitno Prabowo, 2001).
1.            Faktor resiko yang tidak bisa dirubah
-    Usia
-    Jenis kelamin
-    Ras
-    Riwayat Keluarga /keturunan
-    Bentuk tubuh
2.            Faktor resiko yang dapat dirubah
-    Merokok
-    Alcohol
-    Defisiensi vitamin d
-    Kafein
-    Gaya hidup
-    Gangguan makan (anoreksia vervusa)
-    Defisiensi esterogen pada menoupouse alami atau menoupouse karena operasi
-    Penggunaan obat-obatan tertentu seperti :
·   Diuretik
·   Glukoortikoid
·   Anti konvulsan
·   Hormon tiroid berlebihan
                     Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pembahasan mengenai faktor resiko akan dibatasi pada merokok,  alcohol, menoupouse, kafein, latihan, umur, jenis kelamin, keturunan.
                                 * Merokok
   Gaya hidup modern, tang  telah  melegalkan wanita merokok di depan umum, semakin membuka banyaknya kasus osteoporosis Nikotin dalam rokok menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang.  Sehingga proses pembentukan tulang oleh osteoblast menjadi melemah (Djoko R, 2001).
                                 * Alkohol
               Dampak dari konsumsi alcohol pada osteoporosis berhubungan dengan jumlah alcohol yang dikonsumsi. Konsumsi yang berlebihan akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang. (R. Prayitno, 2001).
                                 * Menopouse
                  Di sini kadar esterogen menurun. Dengan menurunnya kadar esterogen resorbsi tulang menjadi lebih cepat, sehingga akan terjadi  penurunan masa tulang yang banyak. Bila tidak segera diintervensi akan cepat terjadi osteoporosis (RP 2001).
                     * Kafein
                  Mengkonsumsi atau minum kopi diatas 3 cangkir per hari, menyebabkan tubuh selalu ingin  kencing. Keadaan tersebut menyebabkan kalsium banyak terbuang bersama  air kencing (Djoko R, 2001).
                                 * Latihan /aktivitas
                  Imobilisasi dengan penurunan penyangga berat badan merupakan  stimulus penting bagi resorppsi tulang. Beban fisik yang terintegrasi merupakan  penentu dari puncak masa tulang (Bayu Santoso, 2001).


                                 * Umur- jenis kelamin – keturunan
                  Dari segi  usia pada laki-laki dan wanita usia diatas 40 tahun merupakan usia terkenaa osteoporosis. Sehingga sebelum mencapai usia ini, kekuatan dan gizi tulang harus selalu diperhatikan, agar penurunan  kekuatan tulang tidak begitu curam.
               Dari perbedaan jenis kelamin dapat diketahui bahwa kerapuhan tulang banyak diderita oleh wanita yang menoupouse. Hal ini dikarenakan hormon esterogennya menurun drastis.
Sejarah keluarga juga mempengaruhi penyakit ini, pada keluarga yang mempunyai sejarah osteoporosis, anak-anak yang dilahirkannya enderung akan mempunyai  penyakit yang sama (Djoko R, 2001).

2.6 Penatalaksanaan

               Penatalaksanaan disini menurut Djoko Roeshadi dianjurkan untuk prevensi maupun pengobatannya. Tujuan prevensi adalah untuk mencegah terjadinya osteoporosis dengan menghindari atau mengurangi faktor resiko osteoporosis. Prevensi ini bisa dilakukan dengan melakukan penyuluhan terhadap penduduk, agar mereka dapat mengendalikan hal-hal yang dapat meningkatkan terjadinya  ostreoporosis seperti misalnya :
1.      Mencegah dan menghentikan kebiasaan seperti merokok dan minum alcohol
2.      Mengatur diet yang baik / dengan benar seperti mengkonsumsi sayuran, susu tinggi kalsium dll.
3.      Olah raga teratur











BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1.      Identitas Pasien
     Umur               :
     Jenis Kelamin :
  1.  Keluhan Utama:
            Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
            b.    Riwayat Penyakit Dahulu :
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
            c.    Riwayat Penyakit Keluarga :
            Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
            d.    Riwayat Psikososial :
            Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress yang berkepanjangan.
            e.    Riwayat Pemakaian Obat :
Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau pernahkah pasien tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat.

2.      Pemeriksaan fisik
B1 (breathing )
Inspeksi : ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang
Palpasi : traktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : cuaca resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : pada usia lanjut biasanya didapatkan suara ronki



B2 (blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik sering terjadi keringat dingin dan pusing, adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat

 B3 (brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis, pada kasus yang lebih parah klien dapat mengeluh pusing dan gelisah

B4 (Bladder)
Produksi urine dalam batas normal dan tidak ada keluhan padasistem perkemihan

 B5 (bowel)
Untuk kasus osteoporosis tidak ada gangguan eleminasi namun perlu dikaji juga frekuensi, konsistensi, warna serta bau feses

B6 (Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis, klien osteoporosis sering menunjukkan kifosis atau gibbus (dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3

3.               Pemeriksaan diagnostic/penunjang
a.       Pemeriksaan laboratorium (misalnya : kalsium serum, fosfat serum, fosfatase alkali, eksresi kalsium urine,eksresi hidroksi prolin urine, LED)
b.      Pemeriksaan x-ray
c.       Pemeriksaan absorpsiometri
d.       Pemeriksaan Computer Tomografi (CT)
e.       Pemeriksaan biopsi
Diagnosis/kriteria diagnosis
Diagnosis osteoporosis dapat ditegakkan dari hasil pemeriksaan :
a.        Radiology
b.       Pengukuran massa tulang
c.        Pemeriksaan lab kimiawi
d.       Pengukuran densitas tulang
e.        Pemeriksaan marker biokemis
f.        Biospi
g.       memperhatikan factor resiko (wanita, umur, ras, dsb)

4.      Terapi/penatalaksanaan
a.        Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi sepanjang hidup, dengan peningkatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindungi terhadap demineralisasi tulang
b.      Pada menopause dapat diberikan terapi pengganti hormone dengan estrogen dan progesterone untuk memperlambat kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkan.
c.       Medical treatment, oabt-obatan dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk kalsitonin, natrium fluoride, dan natrium etridonat
d.      Pemasangan penyangga tulang belakang (spinal brace) untuk mengurangi nyeri punggung

3.2  PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Anamnesis
                      Riwayat kesehatan. Anamnesis memegang peranan penting pada evaluasi klien osteoporosis. Kadang keluhan utama (missal fraktur kolum femoris pada osteoporosis). Factor lain yang perlu diperhatikan adalah usia, jenis kelamin, ras, status haid, fraktur pada trauma minimal, imobilisasi lama, penurunan tinggi badan pada orang tua, kurangnya paparan sinar matahari, kurang asupan kalasium, fosfat dan vitamin D. obat-obatan yang diminum dalam jangka panjang, alkohol dan merokok merupakan factor risiko osteoporosis. Penyakit lain yang juga harus ditanyakan adalah ppenyakit ginjal, saluran cerna, hati, endokrin dan insufisiensi pancreas. Riwayat haid , usia menarke dan menopause, penggunaan obat kontrasepsi, serta riwayat keluarga yang menderita osteoporosis juga perlu dipertanyakan.

Pengkajian psikososial. Perlu mengkaji konsep diri pasien terutama citra diri khususnya pada klien dengan kifosis berat. Klien mungkin membatasi interaksi social karena perubahan yang tampak atau keterbatasan fisik, misalnya tidak mampu duduk dikursi dan lain-lain. Perubahan seksual dapat terjadi karena harga diri rendah atau tidak nyaman selama posisi interkoitus. Osteoporosis menyebabkan fraktur berulang sehingga perawat perlu mengkaji perasaan cemas dan takut pada pasien.

Pola aktivitas sehari-hari. Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga, pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, mandi, makan dan toilet. Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan dengan menurunnya gerak dan persendian adalah agility, stamina menurun, koordinasi menurun, dan dexterity (kemampuan memanipulasi ketrampilan motorik halus) menurun.
Adapun data subyektif dan obyektif yang bisa didapatkan dari klien dengan osteoporosis adalah :
• Data subyektif :
- Klien mengeluh nyeri tulang belakang
- Klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun
- Klien mengatakan membatasi pergaulannya karena perubahan yang tampak dan keterbatasan gerak
- Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
- Klien mengeluh bengkak pada pergelangan tangannya setelah jatuh
- Klien mengatakan kurang mengerti tentang proses penyakitnya
- Klien mengatakan buang air besar susah dan keras
• Data obyektif ;
- tulang belakang bungkuk
- terdapat penurunan tinggi badan
- klien tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
- terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
- klien tampak gelisah
- klien tampak meringis

3.      Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik menggunakan metode 6 B(Breathing, blood, brain, bladder, bowel dan bone) untuk mengkaji apakah di temukan ketidaksimetrisan rongga dada, apakah pasien pusing, berkeringat dingin dan gelisah. Apakah juga ditemukan nyeri punggung yang disertai pembatasan gerak dan apakah ada penurunan tinggi badan, perubahan gaya berjalan, serta adakah deformitas tulang.
4.      Pemeriksaan diagnostic
- Radiology
- CT scan
- Pemeriksaan laboratorium

3.3                     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Masalah yang biasa terjadi pada klien osteoporosis adalah sebagai berikut :
1.      Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai dengan klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan tangan, terdapat fraktur traumatic pada vertebra, klien tampak meringis.
2.      Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas, stamina menurun, dan terdapat penurunan tinggi badan.
3.      Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun, tulang belakang terlihat bungkuk.

3.4 RENCANA INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai dengan klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan tangan, terdapat fraktur traumatic pada vertebra, klien tampak meringis
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang dengan kriteria hasil klien dapat mengekspresikan perasaan nyerinya, klien dapat tenang dan istirahat, klien dapat mandiri dalam penanganan dan perawatannya secara sederhana.
Intervensi :
• Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik termasuk intensitas (skala 1-10). Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital dan emosi/prilaku)
R/ Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi
 Ajarkan klien tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya
R/ alternative lain untuk mengatasi nyeri misalnya kompres hangat, mengatur posisi untuk mencegah kesalahan posisi pada tulang/jaringan yang cedera
 Dorong menggunakan teknik manajemen stress contoh relaksasi progresif, latihan nafasa dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan teraupetik
R/ Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa control dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri yang mungkin menetap untuk periode lebih lama
  Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi
R/ diberikan untuk menurunkan nyeri.

2. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas, stamina menurun, dan terdapat penurunan tinggi badan
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien mampu melakukan mobilitas fisik dengan criteria hasil klien dapat meningkatkan mobilitas fisik, berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan, klien mampu melakukan aktivitas hidup sehari-hari secara mandiri
Intervensi :
• Kaji tingkat kemampuan klien yang masih ada
R/ sebagai dasar untuk memberikan alternative dan latihan gerak yang sesuai dengan kemampuannya
• Rencanakan tentang pemberian program latihan, ajarkan klien tentang aktivitas hidup sehari-hari yang dapat dikerjakan
R/ latihan akan meningkatkan pergerakan otot dan stimulasi sirkulasi darah
• Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas /perawatan diri secara bertahap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan
R/ kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba, memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.




3.Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun, tulang belakang terlihat bungkuk
Tujuan :
cedera tidak terjadi dengan kriteria hasil klien tidak jatuh dan tidak mengalami fraktur, klien dapat menghindari aktivitas yang mengakibatkan fraktur
Intervensi :
 Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya missal : tempatkan klien pada tempat tidur rendah, berikan penerangan yang cukup, tempatkan klien pada ruangan yang mudah untuk diobservasi.
R/ menciptakan lingkungan yang aman mengurangi risiko terjadinya kecelakaan.
 Ajarkan pada klien untuk berhenti secara perlahan,tidak naik tangga dan mengangkat beban berat.
R/ pergerakan yang cepat akan memudahkan terjadinya fraktur kompresi vertebra pada klien osteoporosis
• Observasi efek samping obat-obatan yang digunakan.
R/ obat-obatan seperti diuretic, fenotiazin dapat menyebabkan pusing, mengantuk dan lemah yang merupakan predisposisi klien untuk jatuh















DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne C, Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddath. Jakarta : EGC.
Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta.
Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta.
Mansjoer. Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculaapius FKUI.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar